Mungkin semua orang pernah frustrasi ngalamin internet di rumah yang lemot pas lagi zoom kuliah atau meeting kerja online, padahal biaya layanan per bulan terbilang mahal dan menguras kantong! Karena masalah tersebut maka lahirnya solusi Internet Rakyat (IRA), sebuah proyek pengembangan jaringan internet di seluruh Indonesia yang didukung penuh oleh pemerintah dalam rangka "demokratisasi akses internet", yaitu pemerataan akses digital yang memungkinkan masyarakat di daerah pinggiran dan pedesaan mendapatkan akses internet berkualitas setara kota besar, serta mendukung dunia usaha dan pelajar untuk lebih maju.
Apa Itu Program Internet Rakyat?
Internet Rakyat adalah layanan WiFi berbasis teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) dengan teknologi Open Radio Access Network (Open RAN) pada frekuensi 1.4 GHz yang memungkinkan jaringan internet dikirimkan langsung dari menara base transceiver station (BTS) ke modem pelanggan tanpa pemasangan kabel fiber optik, sehingga proses penyediaan jaringan lebih cepat dan efisien.
Menariknya, Internet Rakyat termasuk jaringan komersial pertama di Indonesia yang menggunakan Open RAN pada frekuensi 1,4 GHz, menjadikannya terobosan baru di industri telekomunikasi Tanah Air.
Internet rakyat lahir sebagai respons atas tingginya keluhan masyarakat soal mahalnya layanan internet di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur kabel fiber optik konvensional. Layanan ini secara resmi diperkenalkan pada 12 November 2025 melalui kolaborasi antara pemerintah dan sejumlah penyedia layanan internet swasta.
Internet rakyat lahir sebagai respons atas tingginya keluhan masyarakat soal mahalnya layanan internet di Indonesia
Program internet rakyat dijalankan oleh PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge melalui anak perusahaan PT Telemedia Komunikasi Pratama bekerja sama dengan Orex SAI Inc, perusahaan yang didirikan oleh NTT Docomo, Inc. dan NEC Corporation, dua perusahaan teknologi raksasa di Jepang yang berpengalaman dalam teknologi jaringan modern.
Dalam operasionalnya, PT Telemedia Komunikasi Pratama bekerja sama dengan Orex SAI Inc, perusahaan yang didirikan oleh NTT Docomo, Inc. dan NEC Corporation, dua perusahaan teknologi raksasa di Jepang yang berpengalaman dalam teknologi jaringan modern.
Orex SAI bahkan telah membentuk entitas resmi di Indonesia, yaitu PT Orex SAI Indonesia, sebagai komitmen dalam pengembangan teknologi jaringan lokal. Dalam operasionalnya, Orex SAI bertanggung jawab menyediakan solusi end-to-end Open RAN FWA 1,4 GHz, termasuk teknologi inti 5G Core (5GC) yang dikembangkan NEC. Sementara itu, Surge melalui anak usahanya PT Telemedia Komunikasi Pratama akan mendistribusikan layanan sekaligus mengelola jalur pemasaran melalui 26 distributor lokal di wilayah komersial awal Jawa–Bali.
Dalam sebuah kesempatan Presiden Direktur Surge, Yune Marketatmo, menyampaikan bahwa layanan internet rakyat bertujuan untuk memberikan akses internet yang cepat dengan harga terjangkau dan memperluas pemerataan akses internet nasional. Dimana sasaran utama layanan Internet Rakyat ditujukan untuk rumah tangga, mahasiswa dan pelajar, pekerja WFH (Work From Home), UMKM, dan wilayah yang terbatas akses kabel optik.
Janji dan Manfaat Internet Rakyat?
Menurut informasi Telemedia, Internet Rakyat menawarkan harga paket Rp100.000 per 30 hari dengan kecepatan hingga 100 Mbps, layanan 5G, kuota unlimited, sewa modem gratis, dan langganan gratis bulan pertama.
Narasi janji ini diperkuat dengan jargon “100 Mbps seharga 100 ribu rupiah”. Dalam lanskap industri telekomunikasi Indonesia saat ini, angka tersebut sangat mendisrupsi pasar. Sebagai perbandingan, paket serat optik dari penyedia layanan internet (ISP) besar biasanya mematok harga Rp250.000 hingga Rp350.000 untuk kecepatan 30-50 Mbps.
Secara teknis, teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) yang beroperasi pada frekuensi 1.4 GHz memungkinkan untuk menekan biaya infrastruktur secara drastis, sehingga harga paket murah 100 ribu rupiah menjadi masuk akal. Namun, calon pengguna perlu memahami bahwa kecepatan “up to 100 Mbps” pada jaringan nirkabel bersifat shared capacity atau berbagi kapasitas, yang kinerjanya bisa berfluktuasi tergantung kepadatan pengguna dan kondisi cuaca, berbeda dengan kestabilan kabel optik.
Dalam website resminya internetrakyat.id disebutkan bahwa visi Internet Rakyat adalah menjadi penyedia akses internet terdepan yang menjembatani kesenjangan digital di seluruh pelosok Indonesia, dengan solusi teknologi yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan. Visi ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia Digital 2045, dimana seluruh masyarakat Indonesia harus punya akses internet yang merata dan berkualitas.
Mewujudkan visi besar ini bukanlah perkara mudah. Tantangan pertama adalah pemerataan infrastuktur pemancar. Untuk mencapai kecepatan yang dijanjikan, ribuan menara pemancar harus dibangun dalam waktu singkat. Berdasarkan informasi yang beredar, target pembangunan ribuan stasiun basis ini memerlukan modal besar dan waktu yang tidak sebentar, dengan target operasional penuh dicanangkan pada tahun 2026.
Tantangan kedua menyangkut skema anggaran dan keberlanjutan bisnis. Menjual layanan data tanpa batas (unlimited) dengan harga sangat murah berisiko membuat operator merugi jika volume pengguna tidak masif. Namun melihat peta jalan yang ada, peluang keberlangsungan Internet Rakyat cukup terbuka, namun pertumbuhannya perlu waktu secara bertahap.
Jika skenario terbaik terjadi dan layanan Internet Rakyat ini bisa dinikmati secara luas, dampaknya akan revolusioner. sektor pendidikan akan menjadi penerima manfaat terbesar, seperti siswa di pelosok Papua atau Maluku bisa mengakses materi pembelajaran yang sama dengan siswa di Jakarta tanpa terkendala kuota mahal.
Bagi ekonomi, ini adalah katalis bagi UMKM untuk go digital. Pedagang di desa bisa memasarkan produk ke pasar global dengan biaya operasional rendah. Selain itu, program ini berpotensi menciptakan potensi lapangan kerja baru, baik sebagai tenaga teknis di lapangan maupun sebagai mitra distributor lokal (reseller) yang kini telah memiliki payung hukum yang jelas melalui sistem perizinan OSS. Ini akan menjadi wajah ekonomi akar rumput dari yang tadinya informal menjadi bagian resmi dari ekonomi digital nasional.
Penutup
Program Internet Rakyat menawarkan visi yang sangat menggoda, yaitu akses informasi tanpa batas bagi seluruh lapisan masyarakat dengan harga secangkir kopi per minggu. Meskipun klaim teknisnya menghadapi tantangan realitas lapangan seperti stabilitas kecepatan dan luas cakupan, inisiatif ini memaksa industri untuk berevolusi dan menurunkan standar harga pasar.
Masyarakat sebaiknya menyambut program ini dengan optimisme yang realistis. Perubahan tidak akan terjadi dalam semalam, dan kualitas layanan mungkin akan bertahap. Namun, satu hal yang pasti: kehadiran Internet Rakyat telah memicu kompetisi yang sehat, yang pada akhirnya menempatkan rakyat sebagai pemenang utama dalam perebutan akses digital yang adil dan merata.






